Logo Kemenag

Kantor Wilayah Kementerian Agama

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Well-Being dan Profesionalisme ASN

Inmas8
Jumat , 27 Februari 2026 | 09:15:48
Dibaca 32 kali
Opini
Foto Opini

Asmaridho Afendi (Tim Kerja Ortala)

Di tengah tuntutan reformasi birokrasi, digitalisasi layanan, dan target kinerja yang terus meningkat, satu isu sering tertinggal dalam percakapan resmi birokrasi,well-being aparatur sipil negara. Padahal, profesionalisme tidak pernah lahir dari tubuh yang lelah, pikiran yang tertekan, dan ruang kerja yang miskin empati.

Bagi ASN di Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bangka Belitung, tantangan itu terasa nyata. Kantor wilayah bukan hanya mengelola urusan administrasi. Ia mengelola kepercayaan publik, keragaman umat, dinamika lintas agama, serta sensitifitas sosial yang tidak selalu sederhana. Di balik meja kerja ASN Kemenag, sering kali ada beban emosional yang tidak tertulis dalam uraian jabatan.

Di sinilah well-being seharusnya dibaca bukan sebagai fasilitas tambahan, melainkan sebagai fondasi profesionalisme.

Profesionalisme ASN selama ini kerap diukur melalui disiplin hadir, capaian kinerja, kepatuhan prosedur, dan kecepatan layanan. Semua itu penting. Namun profesionalisme yang hanya bertumpu pada target, tanpa memerhatikan kondisi manusia yang menjalankannya, perlahan akan berubah menjadi rutinitas mekanis,rapi secara administrasi, tetapi rapuh secara psikologis. Padahal, ASN Kementerian Agama memiliki karakter pekerjaan yang khas.

Mereka tidak hanya berhadapan dengan dokumen, tetapi juga dengan harapan masyarakat, konflik persepsi keagamaan, persoalan sosial umat, hingga tekanan publik yang sering kali sensitif. Dalam konteks ini, well-being bukan sekadar soal kesehatan fisik, melainkan juga ketahanan mental, rasa aman di lingkungan kerja, relasi yang sehat antarpegawai, dan ruang untuk didengar.

Tantangan terbesar well-being ASN hari ini justru muncul dari budaya kerja yang tidak selalu memberi ruang untuk lelah.

Masih ada anggapan tak tertulis bahwa pegawai yang kuat adalah yang selalu siap, selalu tersedia, selalu bisa. Lembur menjadi kebiasaan. Pesan pekerjaan di luar jam kantor dianggap wajar. Istirahat sering kali dipandang sebagai kemewahan. Dalam jangka pendek, sistem ini terlihat produktif. Namun dalam jangka panjang, ia menyisakan kelelahan kolektif yang diam-diam menggerus kualitas kerja.

Di Kanwil Kemenag Bangka Belitung, profesionalisme ASN seharusnya tumbuh seiring dengan keberanian institusi merawat manusianya.

Bukan hanya melalui kegiatan seremonial kesejahteraan, tetapi lewat kebijakan kecil yang konsisten, pembagian beban kerja yang lebih adil, komunikasi yang terbuka, iklim kerja yang tidak menormalisasi tekanan berlebihan, serta penghargaan terhadap proses, bukan hanya hasil.

Lebih dari itu, well-being juga berkaitan langsung dengan integritas.

Pegawai yang kelelahan secara mental lebih rentan terhadap sikap apatis, ketidakpedulian terhadap kualitas layanan, bahkan kompromi terhadap nilai-nilai. Sebaliknya, ASN yang merasa dihargai, didengar, dan dilibatkan akan lebih mudah menjaga komitmen moral dalam bekerja. Dalam konteks Kementerian Agama, hal ini menjadi semakin penting, karena ASN tidak hanya mewakili negara, tetapi juga menjadi wajah etika pelayanan keagamaan di ruang publik.

Profesionalisme tanpa well-being hanya melahirkan kepatuhan.
Profesionalisme yang ditopang well-being melahirkan ketulusan.

Dan justru ketulusan inilah yang dibutuhkan dalam pelayanan lintas umat.

ASN Kanwil Kemenag Bangka Belitung dituntut untuk netral, adil, ramah, dan sensitif terhadap keragaman. Semua itu tidak mungkin dijalankan secara konsisten jika lingkungan kerja tidak memberi ruang bagi pegawainya untuk tetap menjadi manusia,yang bisa lelah, bisa tertekan, dan butuh dukungan.

Pada akhirnya, membangun profesionalisme ASN tidak cukup dengan regulasi, SOP, dan indikator kinerja. Ia harus dibarengi dengan kesadaran kelembagaan bahwa kualitas pelayanan publik sangat ditentukan oleh kualitas kehidupan kerja aparatur di dalamnya. Dan mungkin, di sela rapat, target, serta laporan kinerja, kita perlu berhenti sejenak.

Seperti secangkir kopi di atas meja kerja ,ia tidak membuat pekerjaan selesai lebih cepat,
tetapi dari hangatnya, kita diingatkan, bahwa ASN yang baik bukan hanya yang kuat mengejar target, melainkan yang tetap utuh menjaga dirinya.

Sebab dari aparatur yang sejahtera, akan lahir profesionalisme yang lebih jujur,
lebih ramah,dan lebih bermakna bagi umat yang kita layani.

 

Ditulis Oleh : Asmaridho Afendi (Tim Kerja Ortala)

Editor : Romlah R