Dwiyana Ocviyanti, S.Sy., M.Pd -Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Pangkalpinang
Sedekah sering kali dipahami sebagai tindakan sederhana: memberi sebagian harta kepada yang membutuhkan. Namun di era media sosial, sedekah tidak lagi selalu berlangsung dalam ruang sunyi. Ia hadir di layar ponsel, direkam, diedit, lalu diunggah untuk disaksikan banyak orang. Di sinilah muncul pertanyaan yang relevan dengan kehidupan modern: apakah kita sedang bersedekah dengan hati, atau sedang membuat sedekah menjadi konten?
Fenomena ini bukan hal kecil. Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hampir setiap aktivitas memiliki potensi untuk dibagikan, termasuk momen berbagi. Di tengah budaya “like”, “view”, dan “share”, kebaikan pun bisa berubah menjadi sesuatu yang dipertontonkan. Padahal, sedekah pada dasarnya adalah ibadah yang sangat terkait dengan keikhlasan.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 271 bahwa jika kita menampakkan sedekah, itu baik. Namun jika kita menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang fakir, itu lebih baik bagi kita. Ayat ini menunjukkan keseimbangan. Menampakkan sedekah bukanlah sesuatu yang otomatis salah. Tetapi menyembunyikannya sering kali lebih dekat kepada kemurnian niat.
Di era digital, ujian itu menjadi lebih kompleks. Dahulu, seseorang mungkin hanya tergoda oleh pujian orang sekitar. Kini, pujian itu bisa datang dari ribuan bahkan jutaan orang. Komentar yang memuji, pesan yang mengagumi, serta jumlah pengikut yang bertambah dapat menjadi godaan yang halus. Tanpa disadari, hati mulai menikmati sorotan.
Pertama, kita perlu memahami bahwa sedekah adalah ibadah hati sebelum menjadi tindakan tangan. Tangan boleh memberi, tetapi hati yang menentukan nilai. Jika hati dipenuhi keinginan untuk dilihat dan dipuji, maka nilai spiritualnya bisa berkurang. Rasulullah SAW bahkan mengingatkan tentang bahaya riya’, yaitu melakukan amal karena ingin dilihat manusia. Riya’ bukan selalu tampak jelas; ia sering hadir secara perlahan dan sulit disadari.
Dalam konteks media sosial, riya’ bisa hadir dalam bentuk yang sangat modern. Misalnya, seseorang merekam dirinya saat memberi bantuan kepada orang miskin. Wajah penerima bantuan diperlihatkan. Kisah sedihnya dijadikan latar narasi. Tujuannya mungkin untuk menginspirasi. Namun di sisi lain, ada kemungkinan muncul rasa bangga karena dianggap dermawan.
Kedua, kita perlu membedakan antara inspirasi dan eksploitasi. Tidak semua konten sedekah salah. Banyak gerakan sosial berhasil karena kekuatan media. Donasi terkumpul cepat karena video yang menyentuh. Orang-orang yang sebelumnya tidak peduli menjadi tergerak untuk membantu. Dalam hal ini, media sosial bisa menjadi alat kebaikan yang luar biasa.
Namun masalah muncul ketika martabat penerima tidak dijaga. Sedekah seharusnya mengangkat derajat orang yang dibantu, bukan menjadikannya objek tontonan. Jika seseorang yang sedang kesulitan harus menahan malu karena direkam, maka kita perlu bertanya: apakah kebaikan itu benar-benar memuliakan?
Islam sangat menjaga kehormatan manusia. Memberi dengan cara yang merendahkan bertentangan dengan semangat kasih sayang. Sedekah bukan hanya soal berpindahnya uang atau barang, tetapi juga tentang menjaga perasaan dan harga diri.
Ketiga, fenomena sedekah konten sering berkaitan dengan budaya personal branding. Di zaman sekarang, citra diri sangat diperhatikan. Menjadi dikenal sebagai orang baik tentu bukan hal buruk. Namun jika citra itu lebih penting daripada keikhlasan, maka orientasi bisa bergeser. Kebaikan dilakukan bukan lagi semata karena Allah, tetapi demi mempertahankan reputasi.
Di sinilah ujian terbesar berada: apakah kita tetap akan bersedekah jika tidak ada kamera? Apakah semangat berbagi tetap sama jika tidak ada yang menonton? Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya membutuhkan kejujuran hati.
Keempat, sedekah hati memiliki dimensi yang lebih dalam daripada sekadar publikasi. Sedekah hati adalah ketika seseorang memberi dalam diam, mendoakan tanpa diketahui, membantu tanpa perlu diumumkan. Tidak ada sorotan, tidak ada tepuk tangan. Yang ada hanya keyakinan bahwa Allah Maha Melihat.
Sedekah seperti ini mungkin tidak viral, tetapi justru memiliki kekuatan spiritual yang besar. Ia melatih kerendahan hati. Ia menjaga hubungan vertikal antara hamba dan Tuhannya tetap murni. Dalam kesunyian itu, seseorang belajar bahwa penghargaan tertinggi bukan berasal dari manusia, tetapi dari Allah.
Kelima, kita perlu menyadari bahwa media sosial adalah alat, bukan tujuan. Ia bisa menjadi jembatan kebaikan, tetapi juga bisa menjadi jebakan ego. Kuncinya terletak pada niat dan cara. Jika memang harus mempublikasikan sedekah, pastikan tidak merendahkan penerima. Hindari dramatisasi berlebihan. Fokus pada pesan empati, bukan pada diri sendiri.
Selain itu, penting untuk rutin melakukan evaluasi diri. Hati manusia mudah berubah. Apa yang awalnya murni bisa bergeser tanpa terasa. Oleh karena itu, muhasabah menjadi kebutuhan. Setiap kali ingin mengunggah konten kebaikan, berhentilah sejenak. Tanyakan: apakah ini untuk mengajak orang lain berbagi, atau untuk memperkuat citra diri?
Fenomena pamer kebaikan sebenarnya mencerminkan tantangan spiritual zaman modern. Kita hidup dalam dunia yang serba terlihat. Segala sesuatu terdokumentasi. Dalam kondisi seperti ini, menjaga keikhlasan menjadi perjuangan tersendiri. Namun justru di situlah letak nilai ibadah. Semakin sulit menjaga hati, semakin besar usaha yang dibutuhkan.
Pada akhirnya, sedekah bukan tentang seberapa banyak orang yang tahu, tetapi tentang seberapa tulus kita memberi. Media sosial boleh menjadi sarana dakwah dan inspirasi, tetapi hati tetap harus menjadi pusat kendali. Jangan sampai kebaikan berubah menjadi panggung pertunjukan.
Sedekah konten mungkin mendapatkan banyak penonton. Tetapi sedekah hati mendapatkan ketenangan. Sedekah konten mungkin menghasilkan pujian. Tetapi sedekah hati melahirkan kedekatan dengan Allah. Pilihan ada pada kita.
Di tengah dunia yang gemar menampilkan segala hal, mungkin kita perlu belajar kembali mencintai kesunyian. Karena tidak semua kebaikan harus diumumkan. Ada amal yang justru tumbuh indah ketika disembunyikan. Dan di situlah, sedekah menemukan makna terdalamnya: bukan sekadar memberi, tetapi membersihkan hati.
Jika hati tetap menjadi pusat niat, maka apa pun medianya bisa menjadi ladang pahala. Namun jika hati terabaikan, maka bahkan kebaikan pun bisa kehilangan nilainya. Maka sebelum membagikan sedekah ke dunia maya, pastikan kita telah membagikannya terlebih dahulu kepada Allah dalam bentuk keikhlasan.
Sebab pada akhirnya, yang kita cari bukanlah sorotan manusia, melainkan ridha-Nya. Wallahu a’lam.
Kontributor: Dwiyana Ocviyantai
editor: Humas/PAL