Asmaridho Afendi (Tim Kerja Ortala)
Di lingkungan kerja yang sejak awal dirancang untuk merawat keberagaman, tantangan berpuasa tidak berhenti pada urusan fisik lapar dan dahaga. Di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, puasa justru diuji pada ruang yang lebih luas, bagaimana nilai ibadah personal bertemu dengan tanggung jawab pelayanan publik yang melayani semua umat, dari latar agama apa pun.
Sebagai institusi yang menaungi urusan keagamaan lintas iman, kantor ini setiap hari hidup dalam realitas majemuk. Pegawai datang dari keyakinan yang berbeda, ritme kerja berjalan tanpa menunggu siapa yang sedang berpuasa, dan agenda pelayanan tetap menuntut ketepatan waktu, ketelitian administrasi, serta kehadiran emosional di hadapan masyarakat.
Di sinilah tantangan pertama muncul,menjaga fokus kerja di tengah keterbatasan energi. Puasa tidak mengurangi beban tugas, tetapi menambah beban pengelolaan diri. Menjawab layanan masyarakat dengan ramah, menyelesaikan berkas tepat waktu, dan tetap hadir dalam rapat-rapat teknis semuanya harus dilakukan dalam kondisi tubuh yang sedang belajar menahan. Namun tantangan yang lebih halus justru hadir dalam interaksi sosial sehari-hari.
Di ruang kerja lintas agama, rekan yang tidak berpuasa tetap menjalani rutinitasnya secara wajar. Makan siang tetap berlangsung. Kopi tetap diseduh. Percakapan santai tetap terjadi di jam istirahat. Tidak ada yang keliru dalam semua itu. Yang diuji adalah cara kita, yang sedang berpuasa, memaknai keberagaman tersebut.
Puasa, di ruang kerja Kementerian Agama, tidak boleh menjelma menjadi sikap eksklusif. Ia tidak boleh berubah menjadi jarak emosional, apalagi rasa paling berhak untuk dimengerti. Justru di institusi yang menjadi simbol moderasi beragama, puasa seharusnya melahirkan kematangan: mampu menata perasaan, bukan menata orang lain. Tantangan berikutnya adalah soal persepsi profesionalitas. Masih ada kegelisahan di sebagian pegawai yang berpuasa ,takut dianggap menurun kinerjanya, khawatir dicap tidak sigap, atau merasa tidak enak jika membutuhkan jeda lebih panjang. Padahal, esensi puasa bukan memperlemah etos kerja, melainkan menata ulang niat bekerja. Di kantor pelayanan publik, puasa semestinya memperhalus cara melayani, bukan mengendurkannya.
Pada saat yang sama, lingkungan kerja lintas agama pun memikul tanggung jawab yang tidak kecil. Sensitivitas terhadap rekan yang sedang berpuasa tidak selalu tumbuh otomatis. Candaan ringan soal makanan, rapat panjang menjelang waktu berbuka, atau agenda mendadak di sore hari sering terjadi tanpa niat mengganggu. Tetapi di ruang kerja yang membawa nama Kementerian Agama, kepekaan semacam ini seharusnya menjadi budaya, bukan sekadar kebetulan.
Di sinilah peran kelembagaan menjadi krusial.Kantor wilayah tidak cukup hanya mempromosikan moderasi beragama dalam slogan dan program. Ia harus hadir dalam kebijakan kecil yang terasa nyata,pengaturan agenda yang lebih manusiawi, fleksibilitas waktu istirahat, dan etika ruang bersama yang saling menghormati. Bukan untuk mengistimewakan satu kelompok, melainkan untuk merawat suasana kerja yang adil bagi semua.
Tetapi tetap, tantangan paling berat berpuasa di lingkungan kerja lintas agama berada pada diri individu.Di Kanwil Kementerian Agama Bangka Belitung, puasa diuji bukan hanya oleh jadwal kerja, melainkan oleh karakter. Menahan emosi ketika lelah. Menahan prasangka ketika melihat kebiasaan orang lain yang berbeda. Menahan ego ketika merasa cara beribadah kita lebih benar.
Puasa di kantor ini, pada akhirnya, bukan sekadar ibadah ritual. Ia adalah latihan akhlak sosial. Ia mengajarkan bahwa menjadi aparatur Kementerian Agama bukan hanya soal memahami regulasi dan program lintas agama, tetapi tentang menghadirkan nilai-nilai keberagaman itu dalam sikap sehari-hari di meja kerja, di ruang rapat, dan di loket pelayanan.
Dan di sela-sela tumpukan berkas serta layar komputer, puasa seperti secangkir kopi yang dibiarkan dingin di atas meja. Aromanya tetap ada, meski tak disentuh. Ia mengingatkan kita bahwa tidak semua yang berada dalam jangkauan harus segera dimiliki. Di kantor wilayah yang melayani semua umat, puasa sedang melatih kita menjadi aparatur yang lebih utuh bukan hanya taat kepada Tuhan, tetapi juga adil, ramah, dan lapang kepada sesa Dan pada akhirnya, di ruang kerja yang dihuni banyak keyakinan, puasa di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menemukan maknanya yang paling sunyi.
Seperti secangkir kopi yang terdiam di sudut meja,ia tidak mengubah hiruk pikuk kantor, tidak menghentikan rapat,tidak menunda pelayanan. Tetapi dari uapnya yang tipis,kita belajar satu hal yang paling penting, bekerja di tengah perbedaan bukan tentang siapa yang paling kuat menahan lapar, melainkan siapa yang paling lapang menjaga rasa. Dan di antara berkas, layar, serta wajah-wajah yang berbeda iman, puasa mengajarkan kita untuk tetap hangat
seperti secangkir kopi,yang mungkin tak selalu kita minum, tetapi selalu mengingatkan bahwa melayani sesama adalah ibadah yang tidak mengenal sekat.