Madrasah untuk Kita Semua

                                            Oleh : Amizan Wardi, Guru MIN 1 Belitung Timur

 

 

     Sejatinya fungsi sekolah atau Madrasah adalah bukan seberapa cerdas anda, melainkan bagaimana anda menjadi cerdas. (Howard Gardner)

 

     Sekolah atau Madrasah merupakan lembaga pendidikan dimana proses belajar dan mengajar secara formal berlangsung. Seiring dengan berkembangnya waktu, posisi sekolah/Madrasah menjadi sentral dan utama di masyarakat kita. Hal tersebut bisa kita lihat dari pandangan masyarakat dan kesempatan mendapatkan kerja–baik di lembaga negeri maupun swasta- bahwa orang baru dianggap berpendidikan kalau dia menamatkan sekolah/Madrasah  formal dan orang bisa mendapatkan pekerjaan kalau ia memiki selembar kertas ijazah meski terkadang tidak ada skill. Bukankah pendidikan formal merupakan salah satu jenis pendidikan saja, selain informal dan non-formal?

      Seiring dengan peran pendidikan formal yang begitu penting di masyarakat, maka menjamur lah Madrasah-madrasah atau sekolah-sekolah formal itu mulai dari tingkat SD/MI (Sekolah Dasar /Ibtidaiyah) hingga Aliyah atau SMA (Sekolah Menengah Atas). Sekolah-sekolah atau Madrasah tersebut berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik, karena dengan menjadi Madrasah/sekolah terbaik tentu akan memberikan keuntungan ‘privilege’ dan sekaligus keuntungan materi. Keduanya saling terkait. Dimana Madrsah/sekolah yang memiliki ‘privilege’ tentu akan mudah mendapatkan keuntungan ‘materi’. 

      Dengan demikian, banyak stakeholder dan manajemen Madrasah/sekolah yang berbondong-bondong untuk mengembangkan manajemen Madrasah atau sekolahnya agar menjadi Madrasah/sekolah terbaik seperti menerapkan konsep Madrasah Cendikia atau sekolah unggulan, Madrasah/sekolah model, Madrasah/sekolah berstandar nasional dan Madrasah/sekolah berstandar internasional –kedua model terakhir sudah dihapuskan.

      Ironisnya, konsep Madrasah/sekolah terbaik yang dicetuskan oleh para stakeholder dan manajemen Madrasah/sekolah tersebut mengakar kuat di masyarakat kita. Sehingga tertanamlah di benak  mereka sebuah paradigma bahwa Madrasah/sekolah terbaik adalah Madrasah/sekolah yang dihuni oleh siswa-siswi yang memiliki kecerdasan kognitif di atas rata-rata, Madrasah/sekolah terbaik adalah Madrasah/sekolah yang siswa-siswinya unggul dalam ilmu-ilmu eksakta seperti fisika, biologi, kimia, matematika dan lainnya. Paradigma tersebut tumbuh subur di masyarakat kita.

      Kalau konsep Madrasah/sekolah terbaik adalah hanya untuk siswa-siswi yang memiliki kecerdasan kognitif semata, tentu sebagai akibatnya akan lahir pula konsep-konsep Madrasah/sekolah rendahan atau buangan. Madrasah/Sekolah dimana siswa-siswinya adalah orang-orang yang gagal masuk ke Madrasah/sekolah unggulan tersebut, Madrasah/sekolah dimana siswa-siswinya tidak memiliki kecerdasan kognitif, dan Madrasah/sekolah yang menampung orang-orang yang tidak memiliki kecerdasan kognitif. 

      Konsep Madrasah/sekolah unggulan tersebut tentu menafikan dan mengabaikan siswa-siswi yang dianggap tidak cerdas karena hanya menerima dan mengakui siswa-siswi yang cerdas kognitifnya saja. Bukankah setiap individu itu cerdas sebagaimana yang disampaikan oleh Gardner di dalam teori multiple intelligence-nya? Konsep Madrasah/sekolah unggulan sudah menggurita di Indonesia. 

      Menurut Munif Chatib, seorang konsultan pendidikan, konsep tersebut memiliki dampak negatif yang sangat luar biasa seperti mendiskriminasi kecerdasan siswa, tidak menghargai kecerdasan setiap individu, membuat individu tidak percaya diri dengan kecerdasannya –bagi mereka yang tidak lolos seleksi ke Madrasah/sekolah unggulan, dan lainnya. 

     Konsep Madrasah/sekolah unggulan yang ada tersebut bukanlah Madrasah/sekolah yang manusiawi. Karena sebagaimana yang dikatakan Gardner bahwa sejatinya fungsi Madrasah/sekolah adalah bukan seberapa cerdas anda, melainkan bagaimana anda menjadi cerdas. Madrasah/Sekolah yang manusiawi adalah Madrasah/sekolah yang menerima setiap individu dengan kecerdasannya masing-masing. 

     Di buku Sekolah Anak-anak Juara, Chatib menawarkan sebuah konsep Madrasah/sekolah unggulan yang manusiawi dan menghargai setiap kecerdasan individu. Menurutunya, ada tiga tahapan untuk mewujudkan sekolah unggulan yang manusiawi;

     Pertama, Madrasah/sekolah tanpa seleksi tes masuk. Kebanyakan Madrasah/sekolah ungulan yang ada adalah Madrasah/sekolah yang menerapkan tes standar masuk dengan begitu ketatnya, menjadikan hasil tes tersebut untuk memetakan kelas –yang pintar satu kelas dengan yang pintar dan begitu sebaliknya, dan tidak menerima siswa yang berkebutuhan khusus. 

      Adapun konsep Madrasah/sekolah unggulan manusiawi yang ditawarkan oleh Chatib adalah Madrasah/sekolah yang menerima semua siswa yang mendaftar tanpa tes yang ketat–tentu dengan memperhatikan kuota ruangan kelas, menjadikan hasil tersebut sebagai database, memetakan kelas sesuai dengan gaya belajar siswa, dan menerima siswa yang berkebutuhan khusus.

      Kedua, menerapkan proses belajar terbaik (the best process learning). Yang dimaksud dengan Madrasah/sekolah the best process learning adalah Madrasah/sekolah yang menerapkan metode pengajaran yang bervariasi (multiple intelligence strategy) sesuai dengan kecerdasan dan gaya belajar siswa. Model pengajaran monoton dan satu arah tentu hanya akan membuat siswa tidak antusias dan malas untuk menyerap setiap materi yang disampaikan.

      Maka dari itu, seorang guru harus menggunakan strategi multiple intelligence agar materi yang disampaikan bisa diserap oleh siswa dengan baik. Langkah-langkah penerapan the best process learning adalah dengan membuat lesson plan (rencana pengajaran) yang variatif dan menarik, serta tidak hanya menerapkan metode ceramah.

      Ketiga, menerapkan the best output. Madrasah/Sekolah the best output adalah Madrasah/sekolah yang menerapkan metode penilaian terhadap kondisi kognitif maupun jenis kecerdasan siswa lainnya. Kalau Madrasah/sekolah unggulan yang ada sekarang hanya menerima kondisi kognitif siswa semata, dan menyangkal kecerdasan lainnya. 

      Maka Madrasah/sekolah the best output menerima siswa-siswi dari berbagai kecerdasan, mulai dari siswa tipe pembelajar cepat (fast learner) hingga pembelajar lambat (slow learner) bahkan siswa yang membutuhkan siswa yang berkebutuhan khusus. Madrasah/Sekolah the best output juga menerapkan penilaian yang autentik yakni penilaian yang bukan menekankan pada sisi kognitif semata, tapi juga psikomotorik dan afektif secara seimbang.

Berita Terbaru

Opini

Rabu , 25 November 2020 | 11:23:49

Membeli-Keringat-Guru-yang-Guru


Selasa , 06 Oktober 2020 | 06:47:15

Kehadiran-Penyelenggara-Bimas-Buddha-Jadikan-Bimbingan-dan-Pelayanan-U


Senin , 10 Agustus 2020 | 16:01:11

MODEL-PEMBELAJARAN-CONTEXTUAL-THEACING-LEARNING-CTL


Jumat , 13 Desember 2019 | 08:36:16

Eyde-Tusewijaya-Kasubbag-TU-Muda-dan-Inovatif


Rabu , 27 November 2019 | 08:09:23

H-Abdul-Rohim-Kepala-Kantor-Kemenag-yang-Dicintai-Masyarakat


Rabu , 16 Oktober 2019 | 12:40:11

ANTINOMI-REGULASI-STATUS-PERKAWINAN


Selasa , 24 September 2019 | 11:28:41

PPKB-GPAI-DIAGNOSA-GURU-AGAMA


Rabu , 18 September 2019 | 11:48:07

Madrasah-untuk-Kita-Semua


Senin , 09 September 2019 | 10:01:01

MEMELUK-RINDU


Sabtu , 10 Agustus 2019 | 17:06:22

Rukun-dan-Wajib-Haji-dimulai-hari-ini