MEMELUK RINDU

Oleh : Emmi Rianti (Penyuluh Agama Islam Kantor Kemenag Kota Pangkalpinang)

 

Aku bergegas menemui jamaahku di sebuah Musholla.  Jamaah yang ternyata telah menungguku sedari tadi. Aku memang tak langsung menemui mereka karena, harus menemui ibu Hani, tuan rumah si pemilik panti dan musholla. Seminggu yang lalu, aku telah berdialog banyak dengan ibu Hani menyampaikan hajat hendak menghidupkan pengajian di musholla lingkungan sekitar “Panti Harapan” karena ada banyak warga penghuni panti tetapi, tidak ada kegiatan keagamaan yang diselenggarakan. Gayung bersambut, ibu Hani, seorang perempuan “perkasa” dengan postur besar tinggi menyambut baik rencana kegiatan keagamaan tersebut. Sehingga jadilah aku di sini pagi ini. Pagi indah yang begitu istimewa bagiku. Dan, pertemuan perdana kali ini diawali dengan Perkenalan. Setelah mengucap salam dan meperkenalkan diri maka aku pun memberikan motivasi belajar dan menuntut ilmu. Lalu satu persatu para jamaah yang terdiri dari laki- laki dan perempuan lansia ini diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri.

Mbok Janti, salah satu wanita lansia penghuni panti Harapan berumur 65 tahun dengan perawakan mungil, bermata bulat dan lebar, berhidung bangir, dan berkulit sawo matang. Wajahnya masih memperlihatkan bekas kecantikan masa muda. Entah mengapa, usai perkenalan kemaren nama itu begitu lengket dalam pikiranku. Hingga ketika aku tertidurpun terbawa dalam mimpi...aku melihat mbok Janti berjalan terseok dalam sebuah lorong. Bersusah payah untuk menjangkau mulut terowongan hingga ia berhasil keluar dan menjumpai sebuah kebun hijau yang dipenuhi berbagai buah- buahan dan taman bunga. Ia segera menghampiri bunga- bunga tersebut menciumnya, lalu memetiknya setangkai dan memberikannya pada seseorang...aku tidak mengenalinya karena ia membelakangiku. Aku berpikir dalam hati,..kapan wanita ini ada di sini...mengapa ia berada di sini, apakah kebun ini miliknya...? siapa dia?...aku terus berpikir sambil badanku membungkuk miring ke kiri dan ke kanan untuk mengenali wajah wanita tersebut. Dan ketika ia berbalik....aku terperanjat!.. ya Tuhan...wanita cantik ini mirip sekali dengan mbok Janti! Matanya, hidungnya,  perawakannya, bahkan suaranya!...ia berbicara dengan suara pelan, ibu...ayo kita pulang...keduanya pun berlalu tanpa menyadari kehadiranku yang dari awal telah memperhatikan mereka. Tiba- tiba sebuah apel terjatuh dari pohonnya, gedebugg!....hampir saja menimpa jemari kakiku yang terkena infeksi tertusuk duri bunga mawar beberapa waktu lalu ketika aku membersihkan rumput pekarangan rumah.  Karena kaget aku pun terbangun. Ah!... Ternyata aku bermimpi....******

  Taklim kali ini tentang Ibu sebagai madrasah pertama bagi anak. Materipun diuraikan, bagaimana peran seorang ibu dalam membentuk anak- anaknya menjadi anak yang soleh- soleha, berakhlak mulia dan memiliki kompetensi dibidangnya untuk kemajuan sebuah bangsa. Keberhasilan seorang anak tidak terlepas dari peran ibu sebagai sekolah pertama bagi anak. Ibulah yang membentuk karakter anak karena ibu merupakan orang yang paling dekat kepada anak. Juga penentu keberhasilannya di masa depan karena pendidikan pertama dan nilai- nilai pendidikan, pertama kali diperoleh seorang anak dari ibunya. Di penghujung kegiatan, aku melihat mbok janti seperti merenung, menatap dengan tatapan mata yang kosong, tak ada fokus yang ia lihat, lalu perlahan ia mengusap matanya yang berkaca- kaca mengeluarkan butiran kristal bening....?********

Aku menuntunnya masuk ke sebuah bedeng. Bedeng couple dengan beberapa kamar. Setelah sama- sama duduk dan berhadapan, ia memegang tanganku sambil berkata:    

” bu...mata saya tidak bisa melihat lagi...” wajahnya pun langsung berubah buram. Ia menunduk seakan tak kuat menahan berat kepalanya, tertunduk lunglai dan putus asa... Mulutku tercekik seakan terkunci, aku memperhatikan matanya, melambai-lamabaikan tanganku di depan wajah sendunya tapi tak ada reaksi dari kedua matanya...untuk beberapa lama aku terdiam kemudian dengan suara tertahan aku menayakan, sejak kapan mbok?.. “sudah tiga hari ”. Kenapa?... “tidak tahu bu..tiba- tiba saja pengliatanku gelap... dan semuanya menjadi hitam!” .... Ia menangis tersedu hiks hiks hiks..., hiks hiks hiks... aku tak kuasa menahan kesedihan ini. Seorang wanita tua hidup sebatangkara tanpa keluarga, tinggal di panti jompo yang sangat sederhana yang lebih banyak mengandalkan uluran tangan orang lain. Kini dalam keadaan tanpa penglihatan...Sungguh ironi kehidupan ini...aku memeluknya erat- erat, membayangkan emakku yang juga telah lansia... hidup sendiri di kampung halaman karena tak mau meninggalkan rumah dan kampung halamannya. Berbagai bujuk rayu aku lakukan tapi, belum juga membuat emak berubah pikiran untuk tinggal bersamaku. Alasannya selalu saja nanti..., emak akan tinggal bersama kalian. Tapi belum sekarang. Kebun emak, ayam ternak emak, rumah tua emak...ternyata begitu sulit untuk emak meninggalkannya.

”bagaimana ini bu”... suara tanya mbok janti membuyarkan lamunanku. Ia bertanya dengan pilu... aku hanya bisa menyabarkannya, mbok sabar ya...kita akan carikan obatnya. Kita ke

dokter aja ya mbok...ia pun mengangguk dengan menggenggam harapan bahwa penglihatannya akan pulih kembali. Dan tanpa membuang waktu aku mohon izin kepada ibu Hani untuk membawa mbok Janti ke rumah sakit terdekat. Sebenarnya ini menjadi tanggungjawab panti memperhatikan dan menyediakan pelayanan kesehatan bagi para penghuninya. Dan juga memjadi tanggungjawab pemerintah dan pihak terkait agar secara berkala dan kontinyu memeriksa kesehatan para penghuni panti jompo atau panti asuhan. Ada sich...mereka datang sekali- sekali” demikian jelas ibu Hani. *****.

   Selama aku mengenalnya ia cukup ceria. Wajahnya pun tak pernah menampakkan kesedihan. Setiap taklim selalu memperhatikan dengan seksama dan setiap bertemu ia akan selalu tersenyum. Sungguh diluar dugaan ia menyimpan rasa rindu yang begitu mendalam hingga mengakibatkan matanya menjadi rusak akibat sering mengucek mata karena terlampau sering menangis. Beruntung masih bisa diobati tapi tetap tak bisa mengembalikan penglihatannya seperti semula. Ia hanya bisa melihat secara samar- samar . Tapi setidaknya lebih baik dari pada buta total. Bu...ia berucap manja padaku, ini...ia menyodorkan sebuah album berisi foto- foto masa mudanya. Mulai dari photo masa ABG, jadi pengantin hingga ia memiliki anak perempuan yang cantik. “ namanya Dian...waktu saya tinggalkan ia masih berumur empat tahun. Sedang lucu-lucunya...” mata mbok janti mulai memproduksi kristal- kristal bening.. aku memberanikan diri bertanya, kenapa mbok pergi?...”suami saya pergi meninggalkan saya semenjak saya hamil. Ia pergi dengan wanita lain yang juga masih berstatus istri orang...  Dan tak pernah kembali lagi. Saya tinggal dengan mertua dengan harapan suami masih akan pulang. Suatu hari, saya  cekcok mulut dengan mertua. Dan puncaknya mertua mengusir saya. Beberapa kali saya ingin menjemput anak saya agar berada dalam pengawasan saya. Tetapi jangankan bisa merawatnya untuk bertemu saja pun saya tidak diizinkan....mereka beralasan saya tidak akan bisa menghidupi dan menyekolahkannya. Hati saya benar- benar hancur bu...terlebih ketika kami berpisah ia menangis sekuat-kuatnya, berlari mengejar saya dan berusaha berontak ketika tangan kecilnya dicekal oleh mertua saya... lalu, tak berapa lama dari kejadian itu saya merantau ke pulau sumatera untuk bekerja. Pernah saya pulang dan menemui anak saya, tapi mereka

sudah lama pindah ke kalimantan dan tak pernah lagi terdengar  kabar beritanya. Sungguh

malang nasip saya bu...saya tak punya siapa- siapa lagi di dunia ini...hidup saya sudah tak berarti apa- apa lagi...ya Allah...izinkanlah saya bertemu anak saya sebelum saya

 

meninggal...di manapu ia berada, pertemukanlah kami ya Allah...” ia menangis sesunggukan, merasakan kepedihan hidup yang ia alami. Korban dari orang- orang yang tak punya hati... mbok,...aku berusaha menenangkannya meski aku sendiri terhanyut dalam rasa yang pilu...mbok harus kuat, coba lihat sekeliling mbok, masih banyak teman- teman lain yang hidupnya tidak beruntung. Ibu tuti misalnya, walaupun ia punya anak, menantu dan cucu tapi, anak kandungnya sendiri yang malah mengantar dia kemari karena tak mau mengurusi ibunya yang sudah tua. Atau pak Peto, sejak lahir ia tak pernah tahu siapa ayah dan ibunya ia ditemukan di bawah jembatan ketika masih bayi.  Dalam isak tangis sesunggukan ia berkata terputus-putus,...” bu...hks hks hks... saya masih berharap bisa bertemu anak saya...aaaaaaa... hks hks hks...suara isak tangisnya kian memilu...” aku memeluknya dengan erat sambil terisak aku pun berdoa semoga mbok, semoga Allah mempertemukan mbok dengan Dian, mbok berdoa terus ya?  Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah.**** 

Sungguh ramai pagi ini, banyak kendaraan roda dua dan empat terparkir di panti Harapan. aku bertanya- tanya dalam hati, ada apa gerangan....? seketika aku mencemaskan mbok Janti sambil terus berharap tak terjadi apa- apa dengan beliau.  cepat aku menuju pintu bedeng mbok janti karena nampaknya sumber keramaian ada di sana. Aku tertahan di depan pintu tidak bisa masuk karena ruangan yang kecil dan orang- orang yang ramai berdesakan hendak masuk. Suasana begitu brisik terdengar dari dalam riuh rendah suara tangis dan tawa. Aku masih belum mengerti apa yang terjadi dengan mbok Janti sampai ibu Hani keluar dan melihatku berdiri diantara orang-orang. Segera dia menghampiriku, menarikku masuk dan menghadapkanku pada tamu-tamu mbok Janti. “Ini lho yang masukin foto mbok ke face book sehingga anaknya tahu akan keberadaan mbok. Berterima kasihlah kepada uztazdah Liza...” aku tak begitu fokus dengan pernyataan ibu Hani karena, fokusku pada sosok wanita berhijab yang ada di depanku. Mataku hampir tak berkedip memperhatikannya. Dalam firasatku, aku pernah melihat wanita cantik ini tapi, di mana ya....aku berusaha mengingat kapan kami pernah bertemu. Tiba-tiba mbok Janti bicara, bu...terima kasih...ini anak saya Dian yang saya ceritakan pada ibu tempo hari.  oooo....Dian!...teriakku setengah terkejut. Aku  baru ingat wanita ini yang ada dalam mimpiku beberapa waktu lalu. Ia sungguh mirip dengan mbok Janti. Kami pun bersalaman, berpelukan dengan perasaan yang haru. Kulihat wajah mbok Janti tak pernah lepas dari senyuman dan tangis haru. Begitupun dengan Dian anaknya. Dua wanita tegar ini saling menggenggam, memeluk seakan takut akan berpisah lagi. Aku mendesah dalam kalbu, terima kasih ya Allah...Engkau perkenankan doa kami....********

Sebulan telah berlalu sejak pertemuan itu. Aku pun tak pernah lagi ke panti karena

tugas dakwah yang lama di luar kota. Pagi ini aku berhasrat hendak menemui mbok Janti. Di depan rumah ibu Hani dipasang tenda dan kursi. Suasana masih sepi. Hanya ada bebarapa orang yang terlihat sibuk keluar masuk. Sepertinya akan ada hajatan...demikian aku berpikir. Lalu aku segera menuju bedeng mbok Janti. dan sesampainya di dalam...aku melihat seseorang tertidur ditutupi selimut dari kain panjang yang biasa dipakai di kampungku untuk menggendong bayi atau anak kecil. Belum sempat aku bertanya pada beberapa wanita penghuni panti lainnya tiba- tiba ibu  Tuti berkata, ustazdah, mbok Janti sudah “tidak ada lagi”...kami telepon ustazdah tapi handphonnya  tidak aktif...aku membenarkan bahwa telepon genggam milikku sedang diservice. Aku terduduk lesu dan berucap “innaa Lillaahi wa innaa ilaihi roojuun”..lalu perlahan kusingkap kain penutup wajah mbok Janti. wajahnya terlihat begitu tenang. Bibirnya menyunggingkan senyuman. Sungguh sebuah kematian yang indah tampak terlihat... “Anaknya, si Dian mau ngajak mbok Janti pulang. Tapi mbok Janti bilang mau pulang bulan depan karena harus menunggu meyelesaikan surat-surat kepindahan dan lain-lain. Rupanya Allah berkehendak lain” demikian tutur ibu tuti. “Yah...semua sudah ditentukan oleh yang Mahakuasa. Ternyata takdir mbok Janti akan meninggal di Panti ini”.  Ibu Tuti berusaha menenagkan aku dengan kata- katanya. Iya bu... Semua bumi milik Allah. Apa yang telah ditetapkan itulah yang terbaik bagi mbok Janti. Setidaknya ia telah bertemu dengan anaknya, memeluknya dan menumpahkan kerinduan yang mendalam. Ia pun telah ikhlas menerima takdirnya terlihat dari senyumannya setelah meninggal, seolah- olah ia masih merasakan pelukan anaknya ketika ruh itu terlepas. Mungkin saja anaknya dihadirkan Allah menemaninya saat perpisahan ruh dengan jasad itu terjadi. Atau ia telah melihat tempat tinggalnya di syurga. Yang jelas, semasa hidup beliau senantiasa beribadah dengan tekun, berbuat kebaikan, senantiasa bersedekah meski hidupnya sendiri tergantung pada pemberian orang. Amal ibadah itulah yang memudahkannya dalam menghembuskan nafas terakhir...Insyaallah engkau mbok Janti meninggal dalam keadaaan husnul khotimah...kematian lebih baik bagimu mbok... karena syurga telah menanti.....tiba saatnya nanti, engkau akan berkumpul dengan keluargamu dalam pelukan rindu dan cinta yang abadi.....di bawah naungan ridha Ilahi Robbi..... Aamiin......***********

                       

Berita Terbaru

Opini

Rabu , 25 November 2020 | 11:23:49

Membeli-Keringat-Guru-yang-Guru


Selasa , 06 Oktober 2020 | 06:47:15

Kehadiran-Penyelenggara-Bimas-Buddha-Jadikan-Bimbingan-dan-Pelayanan-U


Senin , 10 Agustus 2020 | 16:01:11

MODEL-PEMBELAJARAN-CONTEXTUAL-THEACING-LEARNING-CTL


Jumat , 13 Desember 2019 | 08:36:16

Eyde-Tusewijaya-Kasubbag-TU-Muda-dan-Inovatif


Rabu , 27 November 2019 | 08:09:23

H-Abdul-Rohim-Kepala-Kantor-Kemenag-yang-Dicintai-Masyarakat


Rabu , 16 Oktober 2019 | 12:40:11

ANTINOMI-REGULASI-STATUS-PERKAWINAN


Selasa , 24 September 2019 | 11:28:41

PPKB-GPAI-DIAGNOSA-GURU-AGAMA


Rabu , 18 September 2019 | 11:48:07

Madrasah-untuk-Kita-Semua


Senin , 09 September 2019 | 10:01:01

MEMELUK-RINDU


Sabtu , 10 Agustus 2019 | 17:06:22

Rukun-dan-Wajib-Haji-dimulai-hari-ini