Kemenag Pangkalpinang Berkomitmen Untuk Berperan Aktif Menangkal Bahaya Terorisme dan Radikalisme

(Pangkalpinang), Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang, H. Firmantasi, S.Ag., M.H., menyatakan bahwa pihaknya berkomitmen untuk berperan aktif dan bersinergi dengan semua pihak terkait dalam upaya menangkal bahaya terorisme dan radikalisme, khususnya di daerah Kota Pangkalpinang.

Penegasan sikap tersebut disampaikan langsung oleh H. Firmantasi di ruang kerjanya pada Kamis, 23/09/2021 sebagai tindak lanjut dari pertemuan dengan utusan dari Polresta Pangkalpinang guna membahas hal tersebut yang juga dilaksanakan melalui operasi Bina Waspada Menumbing 2021 yang tujuannya untuk menciptakan situasi Kamtibmas yang aman dan kondusif serta menyangkal terkait paham radikalisme dan terorisme serta anti Pancasila.

Radikalisme dan terorisme terbukti telah menimbulkan banyak dampak buruk dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, diantaranya meresahkan banyak masyarakat, menghilangkan rasa kasih sayang dan keharmonisan antar umat beragama,merusak nasionalisme dan ideologi pancasila, penodaan nama baik suatu agama, memakan banyak nyawa, menimbulkan banyak kerusakan, menimbulkan kerugian ekonomi, dan meracuni pikiran anak bangsa," tutur Firmantasi.

Oleh karena itu, lanjut H. Firmantasi, Kementerian Agama pun terus berupaya untuk menangkal bahaya tersebut dengan implementasi program Moderasi Beragama yang dilaksanakan melalui berbagai langkah nyata antara lain ;

1. Membentuk Team Cyber Anti-Radikalisme dan Anti-Narkoba Mereview Kegiatan/Program yang tidak prioritas dan menggantinya dengan Kegiatan Anti-Radikalisme.

2. Mensosialisasikan ajaran Agama yang santun, saling menghargai, saling menghormati, damai, toleran, hidup rukun, menerima keberagaman dan kemajemukan, memiliki rasa cinta Tanah Air dan bela Negara serta ajaran agama yang Rahmatan Lil’alamin.

3. Memberdayakan peran Penyuluh Agama Fungsional/Penyuluh Non-PNS, Muballigh, Penceramah dan KUA Kecamatan dalam upaya pencegahan paham Radikalisme.

4. Memberdayakan Lembaga Pendidikan Islam (RA/BA, MI, MTs dan MA) maupun Lembaga Pendidikan keagamaan (LPQ, MADIN dan Pondok Pesantren) dalam upaya Pencegahan Paham Radikalisme kepada Santri/Siswa 
Pembinaan Agama bagi siswa di sekolah-sekolah melalui Guru Pendidikan Agama untuk mencegah masuknya paham radikalisme.

5. Menjalin hubungan koordinatif dengan Lembaga/Ormas Keagamaan Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu dalam upaya mencegah Paham Radikalisme
Bermitra dengan Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan FKUB dalam Mewujudkan Tri Kerukunan Agama.

6. Melakukan penanggulangan paham Radikalisme dengan edukasi masyarakat, penyuluhan, bimbingan masyarakat di sekolah, keluarga, pesantren, majelis taklim, serta sejumlah program seperti dialog, workshop, dan diklat.

7. Melakukan pemulihan paham Radikalisme yang dilakukan dengan penyuluhan dan konseling, misalnya, terhadap eks-NAPI teroris.

"Khusus di Kota Pangkalpinang sendiri, selain upaya-upaya tersebut, dalam waktu dekat ini kami juga berencana akan menggelar kegiatan Safari Jum'at bersama dengan Unsur Forkopimda guna mensosialisasikan bahaya radikalisme dan terorisme, serta pengarusutamaan program moderasi beragama," imbuhnya.

Ditambahkannya juga, dalam memberikan materi pelajaran Agama di Madrasah-madrasah yang berada dalam naungan Kemenag Pangkalpinang, para guru juga telah diinstruksikan untuk menyelipkan materi terkait bahaya radikalisme dan terorisme, serta pentingnya moderasi beragama, agar para siswa dapat memiliki dasar pemahaman sejak dini, sehingga dapat lebih mengefektifkan internalisasi karakter moderasi beragama dalam diri pribadi, yang nantinya akan berimbas kepada sikap dan perilakunya di kehidupan masyarakat.

Beliau pun berharap agar segala upaya yang dilakukan tersebut dapat membuahkan hasil yang efektif dan dapat meminimalisir dampak buruk dari radikalisme dan terorisme, sehingga tercipta suasana kehidupan beragama yang lebih damai dan kondusif, khususnya di daerah Kota Pangkalpinang.

"Perbedaan dan keragaman adalah Sunatullah. Dan dengan menyatukan perbedaan menjadi satu potensi yang dapat menghasilkan suatu kekuatan besar itu pula Bangsa Indonesia dapat meraih kemerdekaan.

"Oleh karena itu, jangan pernah berpikir untuk menghilangkan perbedaan, karena itu sunnatullah, sesuatu yang tidak bisa ditolak. Namun seharusnya kita berpikir bagaimana mengolah perbedaan itu menjadi suatu potensi yang dapat menghasilkan suatu kebaikan." pungkas Kepala Kantor Kemenag Kota Pangkalpinang tersebut. (gg/Gnd)

Berita Terbaru