SPIRIT HAJI


Keterangan Foto : Ustadz Yuliandi Penyuluh Agama Islam Kantor Kemenag Kota Pangkalpinang

Oleh: Yuliandi

Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Pangkalpinang

 

 

Haji adalah ibadah yang sangat monumental dalam kehidupan seorang muslim. Bahkan dalam literatur Islam disebut dengan ibadah paripurna atau puncak pencapaian spiritual  manusia. Sebab, ibadah haji melibatkan semua aspek, mulai dari materi, fisik maupun psikis. Kolaborasi ketiga hal ini menjadi prasyarat penting bagi muslim yang ingin menunaikan haji ke Baitullah.

 

Dr. Ali Syariati dalam bukunya Hajj: Reflection on its Rituals memberikan refleksi bahwa haji adalah sebuah “simbol”. Semakin dalam engkau menyelami lautan ini, semakin jauh engkau dari tepiannya. Haji adalah samudera tak bertepi. Artinya,  haji sarat dengan makna spiritual yang mendalam di balik ritual”simbol”nya. melalui analisanya, mengajak kita untuk menyelami makna haji. Menggiring kita ke dalam lorong-lorong haji yang penuh makna. Diajaknya kita untuk memahami haji sebagi langkah “pembebasan diri”, bebas dari penghambaan kepada tuhan-tuhan palsu menuju penghambaan kepada Tuhan Yang Sejati.

Pertama, thawaf, yakni mengitari Ka’bah sebanyak tujuh kali melawan arah jarum jam. Dari kiri ke kanan dalam artian melepaskan diri dari keterikatan terhadap kebendaan. Thawaf adalah simbol bahwa alam ini tidak berhenti bergerak. Manusia yang ingin eksis adalah yang manusia yang selalu bergerak. Maknanya, bergerak adalah entitas kehidupan. Berhenti bergerak sama dengan kematian.  Kualitas seseorang ditentukan oleh gerak dirinya ke arah yang memberi gerak. Bergerak ke pusat orbitnya. Dalam konteks kehidupan, seseorang yang haji adalah pribadi yang bergerak dalam mewujudkan nilai-nilai ketuhanan di muka bumi. Bergerak dari perilaku maksiat menuju perilaku yang penuh rahmat (Minadzulumati ilannuur`) dari kegelapan menuju cahaya). Karena dengan bergerak ke arah tuhanlah kita akan selamat di belantara kehidupan ini. Sebaliknya, berhenti bergerak adalah statis dan itu sejatinya mati,walau tanpa dikebumi.

 

Kedua, sa’i yaitu berlari-lari kecil antara bukit Safa dan Marwa. Hal ini dilakukan ketika Siti Hajar sangat membutuhkan air. Berdua dengan Ismail yang masih kecil di tempat yang asing dan tidak ada sumber kehidupan. Sebuah tantangan kehidupan yang teramat berat.  Siti Hajar berlari berulang kali mencari sumber air. Ketika sampai di Marwa, ia melihat air di Safa, ketika sampai di Safa, ia melihat air di Marwa. Ternyata yang dilihatnya itu adalah fatamorgana. Namun, tanpa disangka muncullah air dikaki Ismail, yang sekarang kita kenal dengan nama air Zam-Zam. Perilaku Siti Hajar ini memberikan gambaran, bahwa untuk menggapai kejayaan hidup perlu usaha yang sungguh-sungguh dan maksimal. Sejatinya mempunyai tekad dengan kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas dan kerja tuntas. Kendatipun demikian, keputusan akhir ada ditangan Allah, manusia hanya diperintahkan berusaha.

 

Ketiga, melontar Jumrah. ritual ini didasarkan kepada perilaku Ibrahim yang melempar setan ketika ingin menunaikan perintah Allah. Setan adalah simbol yang menggagalkan manusia untuk taat kepada Allah. Dan itu harus dilawan dan dikeluarkan dari diri manusia. Wajah setan pada manusia terkadang muncul dalam berbagai personifikasi (perumpamaan). Bagi orang yang berlimpah harta, setannya adalah perilaku Qarun. Bagi yang memiliki jabatan dan kekuasaan setannya adalah sifat Fir’aun dan bagi yang intelektual adalah perilaku Bal’am. Maknanya, wajah-wajah setan itu harus dibuang jauh dari kehidupan, agar kita  tidak terjebak dalam kesesatan.

 

Keempat, wukuf di Padang Arafah. Dalam Islam di daerah inilah dipertemukannnya Adam dan Hawa dan melakukan taubat kepada Allah. Ungkapan taubatnya,  Allah ungkap dalam surah Al-A’raf ayat 23” Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. Padang Arafah dikenal sebagai miniaturnya Padang Mahsar. Jutaan jemaah haji dari seluruh dunia berkumpul di tempat ini. Tak ada beda antara pejabat dan rakyat, antara yang kaya dan miskin, dan tak ada sekat-sekat negara bangsa. Yang ada hanya manusia sebagai makhluk Allah. Ibadah haji membangkitkan kesadaran bahwa kita kecil dihadapan Allah. Sehingga tidak ada yang perlu disombongkan. Kita diajak untuk lebih menyelami diri, sebagaimana asal kata Arafah yang bermakna mengenal diri. Dalil yang terkenal dikalangan sufi “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafah robbahu”. Siapa yang kenal dirinya akan kenal siapa tuhannya. Wukuf hakikatnya untuk menyadarkan, siapa, dari mana, dan akan kemana kita.

 

Sebagai sebuah ibadah yang sarat dengan simbol dan makna spiritual, sejatinya harus dipahami dengan benar oleh jemaah calon haji. Sebab dengan mengerti, memahami dan menghayati makna tersirat dari yang tersuratlah ibadah haji akan bermakna. Berhaji dengan ritual fisik tanpa memahami makna, sama dengan ritual ulangan yang jauh dari nilai religiusitas dan kering makna. Oleh karena itu, seorang yang bergelar haji diharapkan menjadi agen perubahan untuk membawa manusia ke arah yang baik. Mampu memahami makna hidup dengan benar. Tentu perilaku dan tindak tanduknya secara kualitatif-kuantitatif menjadi baik. Akan menjadi antiklimaks (kemerosotan yang tajam) apabila haji hanya dipahami sebagai ibadah simbol dan tidak termanifestasi dalam realitas kehidupan.

 

Haji bukanlah sekadar prosesi lahiriah formal belaka, melainkan sebuah momen revolusi lahir dan batin untuk mencapai kesejatian diri sebagi manusia. Dengan kata lain, orang yang sudah berhaji haruslah menjadi manusia yang lebih lurus hidupnya dibanding sebelumnya. Kalau tidak, sesungguhnya kita hanyalah wisatawan yang berlibur ke tanah suci di musim haji, tidak lebih!

 

Haji memang dilakukan di Tanah Suci tapi sejatinya haji bagi jemaah  haji Indonesia itu ada di tanah air. Rukun dan syaratnya dilakukan di Makkah, tapi aplikasi haji itu di Indonesia. Itulah sesungguhnya makna spiritual ibadah haji, bukan hanya sekedar bergelar haji atau hajjah.Wallahu a’lam.

Berita Terbaru

>