WISUDA TPA ( Sebuah Akhir Pendidikan Al-Quran ?)


Keterangan Foto : Emmi Rianti, S.Ag Penyuluh Fungsional Kecamatan Rangkui

Sebagaimana yang kita saksikan bersama keberadaan TPA (Taman Pendidikan Al- Quran) di seluruh Indonesia telah tumbuh demikian subur bak jamur di musim hujan. Tak terkecuali di Bangka- Belitung khususnya di ibu kota provinsi kota (Pangkalpinang). Dalam satu kelurahan saja rata- rata ada 2-4 TPA yang berdiri. Ini tentu  menjadi sesuatu yang mengembirakan terutama bagi umat Islam di kota ini. Bahwa animo masyarakat untuk memasukkan anaknya pada lembaga pendidikan non formal ini demikian besar. Demikian pula dengan anak usia Sekolah Dasar hingga menjelang usia remaja begitu antusias untuk menuntut ilmu di lembaga TPA. Ditambah dukungan pemerintah khususnya penyelenggara pendidikan formal untuk mengikutsertakan ijazah TPA ketika anak memasuki jenjang pendidikan menengah. Ijazah merupakan suatu kewajiban. Sehingga apa bila anak tidak memiliki bukti kelulusan atau surat keterangan sah dari TPA maka dengan sendirinya anak tidak bisa diterima di sekolah bersangkutan.

Munaqosyah (ujian) dan wisuda merupakan rangkaian kegiatan yang diselenggaralkan oleh badan dan kementerian berwenang. Dalam hal ini yang berkompeten menyelenggarakan munaqosyah dan wisuda TPA yaitu, Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) dan Kementerian Agama, (KEMENAG) di wilayah masing- masing.

Biasanya setelah meyelesaikan munaqosyah dan dinyatakan lulus, para santri TPA  akan mengikuti wisuda. Sebuah  moment yang mungkin sangat dinanti oleh para orang tua, santri bahkan mungkin, pihak penyelenggara karena merupakan agenda tahunan.  Wisuda sebenarnya diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi yang mahasiswanya telah selesai menempuh pendidikan. Dengan telah diwisudanya mahasiswa berarti mahasiswa bersangkutan dianggap telah cakap untuk mengabdikan

diri di masyarakat berbekal ilmu dan pengalaman pendidikan yang ia peroleh di bangku kuliah. Wisuda sarjana juga merupakan jembatan menuju jenjang pendidikan selanjutnya. (S.2, S.3). 

Pada santri TPA wisuda kemudian menjadi sebuah simbol tidak resmi telah selesainya pendidikan Al- Quran yang ditempuh.  Bukan sesuatu yang mengembirakan ketika kita bertanya kepada alumnus TPA atau ketika kita bertanya kepada orang tuanya “mengapa tidak mengaji lagi”? maka jawabannya hampir bisa dipastikan “saya/ dia (anaknya) sudah munaqosyah, atau saya/ dia (anaknya) sudah diwisuda”.

Dari observasi di lapangan dan wawancara kepada ustazd/ ustadzah penyelenggara TPA, anak- anak yang telah diwisuda tidak akan kembali lagi ke TPA. Jika pun ada persentasenya sangat sedikit. Hanya 0-2 orang saja (tidak pada semua TPA) yang mau kembali mengikuti kegiatan belajar di TPA disebabkan santri yang bersangkutan belum khatam Al- Quran atau belum tamat Sekolah Dasar. Ini menunjukkan kecilnya minat anak untuk tetap  mempelajari Al- Quran pasca wisuda. Meski tidak menafikkan mereka yang tetap mengaji pada guru lain, akan tetapi itu pun hanya segelintir orang tua yang menyadari akan pentingnya penddikan Al- Quran pacsa wisuda.   

 

Wisuda sendiri seolah menjadi suatu ”keharusan” (baca:wajib) bagi mereka yang telah mengikuti dan dinyatakan lulus munaqosyah. Para santri dan ustazd- ustazdah  pun bergiat diri untuk mengejar materi-materi ujian yang biasanya telah ditetapkan pihak penyelenggara munaqosah. Mulai dari hapalan surat pendek, ayat pilihan, doa sehari-hari, praktek shalat dan  tartil Qur’an. Biasanya mereka yang akan ikut berkompetisi dipisahkan pada ruang tertentu untuk dibimbing dan dibina. Atau mendapat jam tambahan di luar KBM. Tentu harapannya agar semua santri bisa lulus dan diwisuda. Terlebih bagi mereka yang telah duduk di kelas  VI  mau tak mau harus mendaftarkan diri jadi peserta munaqasyah dikarenakan “tuntutan” untuk  melampirkan ijazah sebagai syarat masuk sekolah menengah pertama.

Bagi para santri, wisuda merupakan lambang kesuksesan karena ia telah berhasil meyelesaikan  pendidikan di TPA. Demikian juga bagi orang tua merupakan  kebanggaan tersendiri jika anaknya telah diwisuda. Dengan diwisuda berarti  anaknya telah “tamat”. Dan seolah telah terjadi kesepakatan tak tertulis antara anak dan orang tua untuk memaknai wisuda sebagai pengertian dari tamat. Tamat berarti selesai, dan selesai berarti berhenti.

Pola pikir seperti di atas  hendaknya kita luruskan.  Jika anak-anak kita beranggapan pendidikan Al-Quran hanya sebatas pada jenjang TPA saja. Maka bukan kesuksesan yang akan diraih oleh generasi mendatang melainkan sebuah kemunduran bagi bangsa Indonesia khususnya umat Islam.

Pendidikan pada jenjang TPA merupakan pendidikan dasar dengan materi- materi dasar. Tentang Al- Quran misalnya, anak- anak baru dititik beratkan membaca secara lancar. Dan dari pengalaman sebagai tim penguji munaqosah, sebagian besar santri belum mampu membaca lancar.  Bahkan, ketika ditanya tentang nama huruf hijaiyah anak  kebingungan untuk menjawab karena tidak mengetahui nama asli huruf  hijaiyah seperti huruf  ?   ? ?   (alif,ba, ta...dan seterusnya),  yang anak- anak ketahui huruf tersebut dibaca  a, ba, ta dan seterusnya. Padahal hauruf bisa dibaca a, ba, ta apabila ia berbaris fathah.

Begitu juga dengan ilmu tajwidnya, santri TPA belum mengenal apa itu izhar, ikhfa, iqlab, atau macam- macam mad  dan sebagainya. Mereka hanya bisa membaca panjang pendeknya huruf (Mad) secara umum. Demikian halnya dengan materi lainnya seperti materi hafalan. hafalan akan hilang dengan sendirinya apabila selesai wisuda  tidak diulang secara  kontinyu. Jika tidak ada tindak lanjut usai wisuda anak akan berpikir ia telah lulus dan selesai, maka tak perlu baginya bersusah payah lagi untuk menghafal dan mempelajari Al- Quran.

 

Melihat permasalahan tersebut di atas, menjadi sangat urgen bagi kita semua untuk mensosisalisasikan dan menanamkan pemahaman kepada anak dan orang tua (baca:masyarakat) akan  pentingnya  mempelajari Al- Quran dan yang berkaitannya dengannya usai wisuda. Bahwa wisuda bukanlah akhir dari pendidikan di TPA.

Jika kita merujuk pada Pedoman Dasar LPPTKA BKPRMI  dalam Bab I Ketentuan Umum Pasal 2 Tentang jenjang pendidikan. Pada Poin 6 disebutkan ” jenjang TQA ( Ta’limul Quran Lil Aulad) yaitu pendidikan khusus pasca TPA.  Sebutan lain dari TQA adalah TPAL (Taman Pendidikan AL- Quran Lanjutan)”.

Selanjutnya dalam PMA (Peraturan Menteri Agama) No. 13 Tahun 2014  Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 poin 10 menyebutkan, “Diniyah Takmiliyah yang selanjutnya disebut Madrasah Diniyah Takmiliyah adalah lembaga pendidikan keagamaan Islam pada jalur pendidikan nonformal yang diselenggarakan secara terstruktur dan berjenjang sebagai pelengkap pelaksanaan pendidikan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar, menengah dan tinggi”. Lebih lanjut pada PMA Bagian Ketiga Pasal 45 Tentang pendidikan  diniyah non formal diselenggarakan dalam bentuk madrasah diniyah takmiliyah (ayat 1 poin a) selanjutnya dijelaskan pada pasal 46 jenjang pendidikan terdiri atas Ula ( setingkat SD/MI), wustha ( SMP/MTS sederajat), Ulya (sederajat SMA/ MA) dan jenjang al- jami’ah ( Pendidikan Tinggi).   

           

Berdasarkan rujukan di atas, TPA merupakan pendidikan dasar yang masih berkelanjutan pada jenjang berikutnya baik berupa Ta’limul Quran Lil Aulad) TQA /TPAL  Atau dalam bentuk  WUSTHA, atau pun nama lain di masyarakat yang semakna. Jadi jelas, bahwa  munaqosyah dan wisuda bukanlah sebuah akhir dari pendidikan Al- Quran. Pertanyaannya adalah, telah tersediakah wadah yang bisa menampung para alumni TPA tersebut? Jika telah tersedia mengapa gaungnya tidak  sepopuler TPA itu sendiri? .

Ini menjadi tugas kita bersama terutama pihak penyelenggara untuk memperkenalkan kepada masyarakat tentang adanya jenjang  pendidikan AL- Quran pasca TPA. Tentu kita tidak ingin anak- anak kita hanya mempelajari Al- Quran sabatas pendidikan usia TPA saja. Anak- anak adalah aset bangsa. Di pundak merekalah negara ini akan diwariskan. Karena semua ilmu sejatinya bersumber dari Al- Quran. Jika kita mewariskan anak- anak yang cerdas dan berakhlaq mulia kepada negara ini maka, negara kita pun akan maju dan makmur. Dan itu merupakan harapan kita semua. Jika tidak, maka sejatinya wisuda pun menjadi tiada...  

Wallohu A’lam Bish Showab. 

 

Oleh: Emmi Rianti, S. Ag.

Penyuluh Fungsional Kec. Rangkui

Berita Terbaru

>