Nilai-nilai Karakter Dalam Al-Qur'an

Berbicara tentang krisis bangsa, banyak yang mengatakan bahwa masalah terbesar yang dihadapi bangsa Indonesia terletak pada krisis moral. Akibat dari krisis ini menimbulkan berbagai krisis diberbagai aspek. Terbukti dengan banyaknya berita tentang tawuran pelajar, kasus-kasus narkoba, pembunuhan, pemerkosaan, keadilan hukum hingga kasus korupsi yang merajalela dari tingkat elite hingga level yang paling bawah sekalipun. Kenyataan yang demikian menunjukkan urgensinya reaktulisasi dan penguatan karakter bangsa  dalam menangkal dekadensi moral bangsa yang sudah sangat memprihatinkan, jika tidak ingin dikatakan bangsa ini sudah berada dijurang kehancuran. Terkait hal ini, memperbaiki moral dalam istilah lain dikenal dengan memanusiakan manusia sebuah keniscayaan.

Dari fakta inilah kemudian mucul gagasan akan pentingnya pendidikan karakter sebagai solusi menjawab permasalahan moral dalam dunia pendidikan di Indonesia. Pendidikan karakter merupakan bagian dari pendidikan nilai (values education) melalui pendidikan keluarga dan sekolah. Keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama dalam penanaman nilai-nilai religious yang menghantarkan seseorang pada pembentukan moral sejak dini. Sedangkan sekolah sebagai lembaga pendidikan  tidak hanya bertanggung jawab dalam mencetak peserta didik yang unggul dalam ilmu penggetahuan dan teknologi tetapi juga dalam diri, karakter dan kepribadian. Kerenanya, mencari konsep pendidikan karakter menjadi sangat urgen dalam upaya menyiapkan insan yang unggul, beriman, jujur dan berkepribadian.

Sebagai agama yang lengkap, Islam seudah memiliki aturan yang jelas tentang pendidikan akhlak ini. Didalam al-Quran akan ditemukan banyak sekali pokok-pokok pembicaraan tentang akhlak atau karakter ini. Seperti perintah untuk berbuat baik (ihsan), dan kebajikan (al-birr), menepati janji (al-wafa), sabar, jujur, takut kepada Allah SWT, bersedekah di jalan Allah, berbuat adil, pemaaf dalam banyak ayat didalam al-Quran. Kesemuanya itu merupakan prinsip-prinsip dan nilai karakter mulia yang harus dimiliki oleh setiap pribadi muslim.

Implementasi pendidikan karakter dalam Islam, tersimpul dalam karakter pribadi Rasulullah SAW. Dalam pribadi Rasul, tersemai nilai-nilai akhlak yang mulia dan agung. Sesungguhnya Rasulullah adalah contoh serta teladan bagi umat manusia yang mengajarkan serta menanamkan nilai-nilai karakter yang mulia kepada umatnya. Sebaik-baik manusia adalah yang baik karakter atau akhlaknya dan manusia yang sempurna adalah yang memiliki akhlak al-karimah, karena ia merupakan cerminan iman yang sempurna.

Dalam Islam, karakter atau akhlak mempunyai kedudukan penting dan dianggap mempunyai fungsi yang vital dalam memandu kehidupan masyarakat. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 90 sebagai berikut:

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”(QS.An-Nahl : 90)

Ayat diatas menjelaskan tentang perintah Allah yang menyuruh manusia agar berbuat adil, yaitu menunaikan kadar kewajiban berbuat baik dan terbaik, berbuat kasih sayang pada ciptaan-Nya dengan bersilaturrahmi pada mereka serta menjauhkan diri dari berbagai bentuk perbuatan buruk yang menyakiti sesama dan merugikan orang lain.

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa Islam merupakan agama yang sempurna, sehingga tiap ajaran yang ada dalam Islam memiliki dasar pemikiran, begitu pula dengan pendidikan karakter. Adapun yang menjadi dasar pendidikan karakter atau akhlak adalah al-Qur’an dan al-Hadits, dengan kata lain dasar-dasar yang lain senantiasa di kembalikan kepada al-Qur’an dan al-Hadits. Di antara ayat Al-qur’an yang menjadi dasar pendidikan Karakter dalam Islam adalah Al-Quran Surah Luqman ayat 12-14.

Jika dikaji,  ada beberapa poin dari unsur-unsur pendidikan karakter dari segi materi yang dapat disimpulkan dari Al-Qur’an Surat Luqman ayat 12-14 yang dijadikan sebagai konsep pendidikan karakter.

1. Karakter Syukur

Karakter syukur tersebut dalam surat Luqman ayat 12 yaitu pada makna anisykur yang merupakan salah satu penjelasan dari hikmah. Karena di antara hikmah yang diberikan adalah mensyukuri apa yang telah diberikan Allah. Syukur merupakan salah satu karakter utama yang perlu dimiliki manusia, sebagai salah satu karakter, syukur merupakan sikap yang perlu dikembangkan dan dibiasakan, karena merupakan kondisi batiniah yang belum selesai sehingga senantiasa perlu diasah dan dibiasakan.

Syukur juga dipahami sebagai wujud rasa terima kasih kepada Tuhan dengan perilaku yang semakin meningkatkan iman dan taqwa atas segala kenikmatan yang diberikan oleh Tuhan (Muchlas Samani & Hariyanto, 2012: 123). Adapun realisasi pengamalan dari karakter syukur dapat dilakukan melalui amal yang berkaitan dengan hati, lisan, dan anggota badan lainnya. Syukur dengan hati adalah dengan meluruskan niat baik terhadap segala sesuatu yang dikerjakan. Syukur dengan lisan adalah berikrar memuji kebesaran Allah dan mengucapkan perkataan yang mulia. Syukur dengan anggota badan adalah dengan memanfaatkan nikmat itu untuk taat dan taqwa kepada Allah dan memohon perlindungan dari perbuatan maksiat (Abdullah Al-Ghamidi, 2011: 81).

Syukur merupakan nilai pendidikan karakter yang bersifat universal. Karena syukur mampu menyentuh semua aspek, meliputi syukur hubungannya dengan Tuhan, diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa, serta alam sekitar (Muchlas Samani & Hariyanto, 2012: 47). Penjelasan ini sejalan dengan salah satu manfaat pendidikan karakter yaitu meningkatkan kepandaian seorang manusia atau individu untuk bersyukur dan berterimakasih kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan dan meningkatkan kemampuan mengembangkan sumber daya diri (Hamdani Hamid & Beni Ahmad Saebani, 2013: 92-93). Aplikasi dari pengembangan sumber daya diri adalah mampu bersikap dan bertindak untuk kemaslahatan.

2. Karakter Iman

Karakter yang dikembangkan dalam surat Luqman selanjutnya yaitu pada ayat 13 tentang makna inna al-syirka la zhulmun al-azhim yang artinya mempersekutukan Allah merupakan kezaliman yang besar. Ayat ini menekankan pentingnya keimanan sebagai pondasi utama setiap manusia. Sehingga setiap manusia muslim diwajibkan mempercayai dengan sepenuh hati adanya Allah SWT. Perbuatan tidak mempercayai atau mempersekutukan Allah disebut syirik, syirik adalah perbuatan mempersekutukan Allah dengan makhluk-Nya, seperti patung, pohon besar, batu, dan lainnya. Mempersekutukan Allah dikatakan kezaliman yang besar, karena perbuatan itu berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Sebagai umat Islam telah diketahui bahwa tauhid merupakan asas puncak dan tertinggi dalam Islam, sehingga perbuatan mengingkari tauhid dengan menyekutukan Allah merupakan dosa besar yang tidak dapat ditolerir, kecuali dengan taubat yang sebenar-benarnya (taubatan nasuha).

Salah satu landasan normatif pendidikan karakter adalah berasal dari kitab suci suatu agama. Dalam konteks agama Islam, Al-Qur’an dan Hadits merupakan pedoman dan rujukan utama dalam bertingkah laku. Larangan mempersekutukan Allah dalam Islam mutlak ditaati dan dilaksanakan karena merupakan perintah dan ajaran agama sebagai bentuk pengakuan terhadap kekuasaan Allah SWT. Landasan normatif tersebut dibutuhkan mengingat bahwa nilai dan norma tidak bersifat netral tetapi memiliki keperpihakan pada sumber yang lebih tinggi. Demikian pentingnya pendidikan karakter keimanan yang berbasis nilai religius karena merupakan kebenaran wahyu Tuhan atau meminjam istilah Jamal Ma’mun Asmani (2012:64) disebut juga konservasi moral.

Karakter iman juga dimaknai sebagai kepercayaan yang tinggi terhadap adanya Tuhan Sang Maha Pencipta, dibuktikan dengan berbuat sesuai perintah dan tuntunan-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya. Karakter keimanan penting sebagai modal dasar manusia agar senantiasa berbuat baik, karena adanya perasaan mendalam dalam diri dan hati tentang adanya pengawasan dari Tuhan terhadap segala perbuatan yang dilakukan. Karakter ini sangat urgen karena mampu membuat seseorang untuk bertahan dan memiliki stamina untuk berjuang dan menghindari tindakan yang mudharat dan tidak bermanfaat.

Pendidikan karakter tentang iman juga menekankan pentingnya monoloyalitas bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah SWT, perbuatan menyembah selain Allah SWT merupakan bentuk kemusyrikan. Novan Ardy Wiyani (2012: 13) mengungkapkan bahwa salah satu karakter yang harus terbentuk dalam perilaku peserta didik adalah peningkatan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui olah hati. Iman dan taqwa kepada Tuhan menurut Novan merupakan landasan yang kuat untuk terbentuknya karakter. Dengan iman dan taqwa tersebut akan terukir karakter positif lainnya.

 3. Karakter Berbuat Baik Kepada Orang Tua

Pada ayat 14 surat Luqman ditegaskan tentang karakter yang penting untuk dilaksanakan adalah makna wawashshaina al-insana biwalidaihi yang artinya dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Berbuat baik kepada kedua orang tua adalah sebuah keniscayaan, karena tanpa jasa, jerih payah, dan pengorbanan orang tua seorang manusia tidak mungkin terlahir ke bumi. Ikatan pertama setelah tauhid adalah ikatan keluarga. Oleh karena itu, penjelasan tentang kewajiban berbakti kepada orang tua dikaitkan dengan penyembahan terhadap Allah dan peringatan dari syirik untuk memberitahukan pentingnya berbakti kepada orang tua di sisi Allah.

Orang tua merupakan pahlawan yang paling berjasa dalam kehidupan seseorang. Melalui keluarga sebagai pusat pendidikan yang pertama dan utama bagi anak, sangat memerlukan adanya kesinambungan antara peran orang tua dan anak. Orang tua memiliki tanggungjawab untuk mengajarkan tentang nilai dan norma yang berlaku, sehingga mampu terinternalisasi dalam kepribadian, karakter, dan tingkah laku anak. Anak bersikap proaktif untuk mengikuti dan melaksanakan arahan dari orang tua. Orang tua selalu mengedepankan totalitas untuk menjaga anak dan mengorbankan segala sesuatu demi kepentingan anak.

Salah satu urgensi dari pendidikan karakter adalah sebagai bentuk pembinaan akhlak dan tingkah laku individu. Maka melalui keluarga, individu diarahkan salah satunya mampu menghargai dan berbakti kepada kedua orang tua, terutama ibu. Ibu dalam keadaan lemah telah mengandung selama 9 bulan, dari proses awal kehamilan, kelahiran, sampai hari-hari awal nifas. Selama masa-masa itu merupakan hari-hari yang melelahkan, derita, kecemasan menjadi bukti dahsyatnya perjuangan dan penderitaan yang dialami seoarang ibu sejak awal kehamilan sampai melahirkan. Dilanjutkan dengan berbagai persoalan yang harus dihadapi ketika proses menyusui, merawat, dan mendidik anak sampai dewasa. Sehingga tidak terbantahkan bahwa karakter berbakti kepada kedua orang tua merupakan hal yang urgen untuk diaplikasikan.

Dalam kaitannya dengan berbakti kepada kedua orang tua, juga ditekankan tentang pentingnya karakter menghormati atau menghargai (respect). Karakter ini merupakan sikap menghargai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Hal ini diwujudkan dengan memperlakukan orang lain seperti keinginan untuk dihargai, beradab dan sopan, tidak melecehkan dan menghina orang lain, dan tidak menilai orang lain sebelum mengenalnya dengan baik (Muchlas Samani & Hariyanto, 2012: 128). Sebagai wujud karakter berbakti kepada kedua orang tua, maka sikap di atas sebagai pedoman dan acuan untuk mampu respect kepada kedua orang tua.

Tiga konsep Pendidikan karakter dalam perspektif Alqur’an inilah yang harus diimplementasikan didalam pembentukan karakter anak bangsa yakni karakter syukur, karakter iman dan karakter berbakti kepada kedua orangtua. Apabila ketiga karakter ini terbentuk dalam setiap jati diri anak bangsa, maka diharapkan akan lahir pemimpin-pemimpin bangsa yang unggul, beriman dan professional. ***

 

Oleh : Farid Wajdi,S.Ag

(Penulis adalah Guru Mata Pelajaran Al-qur’an Hadits pada MTs Negeri 1 Belitung)

Berita Terbaru

>